“Saat sinar UV picu daging tumbuh di Mata” Kenali PTERIGIUM dan Cara Melindungi Mata

Oleh : dr. Nadya Lucyana Runtuwene

Selaput yang tumbuh di bagian putih mata jangan diabaikan. Kenali gejalanya, faktor risikonya, dan cara menjaga kesehatan mata sejak dini.

Pernahkah Anda melihat bagian putih mata seseorang seperti ditumbuhi selaput berwarna putih kemerahan yang mengarah ke bagian hitam mata? Kondisi tersebut bisa jadi merupakan pterigium, yaitu pertumbuhan jaringan pada permukaan mata yang dapat meluas hingga ke kornea, bagian bening di depan mata.

Pterigium masih menjadi salah satu masalah kesehatan mata yang sangat sering ditemukan, terutama di negara-negara beriklim tropis yang berada di garis khatulistiwa seperti Indonesia. Paparan sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun menjadikan masyarakat Indonesia sangat rentan terhadap kondisi yang kerap dijuluki sebagai surfer’s eye (mata peselancar) ini.

Berbagai studi dan data epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi pterigium di Indonesia cukup tinggi, terutama pada populasi yang banyak beraktivitas di luar ruangan seperti nelayan, petani, dan pekerja lapangan. Jika dibiarkan tumbuh hingga menutupi area sentral kornea, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang signifikan, termasuk memicu timbulnya mata silinder (astigmatisme). Sama halnya dengan katarak, penyakit ini dapat dicegah perkembangannya dan jaringan yang mengganggu dapat dihilangkan melalui tindakan operasi.

Apa Itu Pterigium?

Pterigium adalah pertumbuhan jaringan berdaging (fibrovaskular) berbentuk segitiga atau sayap yang berasal dari konjungtiva, yaitu selaput tipis yang melapisi bagian putih mata, kemudian tumbuh ke arah kornea.

Kondisi ini biasanya muncul di sudut mata dekat hidung, meskipun dapat terjadi di sisi luar mata maupun pada kedua mata. Pterigium umumnya bersifat jinak (non-kanker), tetapi dapat terus tumbuh pada sebagian orang dan mengganggu kenyamanan maupun penglihatan.

Kondisi ini biasanya dipicu oleh paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari yang berlebihan dan berlangsung dalam jangka waktu lama. Faktor risiko lain yang dapat memicu atau memperparah pterigium meliputi paparan debu, angin kencang, asap, serta kondisi mata yang cenderung kering.

Mengapa Pterigium bisa terjadi?

Salah satu faktor risiko utama pterigium adalah paparan sinar ultraviolet (UV) dalam jangka panjang. Paparan sinar matahari yang berulang dapat memengaruhi jaringan permukaan mata. Debu, angin, dan kondisi lingkungan yang kering juga dapat memperburuk iritasi mata.

Meski demikian, tidak semua orang yang terpapar sinar matahari akan mengalami pterigium. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga paparan matahari bukan satu-satunya penentu.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Pada tahap awal, pterigium mungkin tidak menimbulkan keluhan berarti. Namun, seiring pertumbuhannya, penderita umumnya merasakan:

  • Mata sering tampak merah dan mengalami iritasi.
  • Terdapat jaringan menonjol berwarna putih kemerahan
  • Rasa mengganjal, perih, atau seperti ada pasir di dalam mata.
  • Mata terasa kering, gatal atau mudah berair.
  • Penglihatan menjadi kabur atau ganda jika jaringan sudah tumbuh menutupi kornea atau mengubah kelengkungan kornea (memicu astigmatisme).

Jika gejala-gejala ini muncul dan jaringan mulai terlihat membesar di area putih mata, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke dokter mata.

Apakah Pterigium harus dioperasi?

Tidak semua pterigium harus dioperasi. Untuk gejala ringan seperti mata merah dan iritasi, dokter biasanya akan meresepkan obat tetes mata (air mata buatan), Jika ukurannya kecil dan tidak mengganggu penglihatan, dokter dapat menyarankan pemantauan berkala dan penggunaan tetes mata pelumas untuk membantu mengurangi rasa kering atau mengganjal.

Apabila terjadi peradangan, dokter dapat memberikan pengobatan sesuai kondisi mata. Obat tetes yang mengandung steroid tidak boleh digunakan sembarangan karena dapat menimbulkan efek samping, termasuk peningkatan tekanan bola mata. Operasi dapat dipertimbangkan apabila pterigium terus membesar, mengganggu penglihatan, menyebabkan perubahan kornea, atau menimbulkan keluhan yang menetap.

Bagaimana cara mencegahnya?

Meskipun tidak semua kasus dapat dicegah, risiko akibat paparan lingkungan dapat dikurangi dengan kebiasaan sederhana berikut:

  1. Gunakan kacamata yang melindungi dari sinar UV (Sunglasses) terutama ketika bekerja atau beraktivitas di luar ruangan.
  2. Gunakan topi bertepi lebar. Topi dapat membantu mengurangi paparan sinar matahari langsung ke mata.
  3. Lindungi mata dari debu dan angin. Gunakan kacamata pelindung yang sesuai saat bekerja di lingkungan berdebu atau berangin.
  4. Jangan menggosok mata berlebihan. Jika mata terasa mengganjal, hindari menggosoknya karena dapat memperburuk iritasi.
  5. Menggunakan obat tetes air mata buatan (artificial tears) untuk menjaga kelembapan mata jika sering beraktivitas di lingkungan yang kering atau ber-AC.
  6. Periksakan mata jika muncul keluhan. Pemeriksaan dokter mata membantu memastikan apakah pertumbuhan jaringan tersebut benar-benar pterigium atau kondisi lain yang menyerupainya.

Perlu diingat bahwa langkah-langkah pencegahan ini bertujuan untuk melindungi mata dari pemicu utama, namun jaringan pterigium yang sudah terbentuk tidak akan bisa hilang hanya dengan pencegahan.

Kapan Harus ke Dokter Mata?

Segera jadwalkan pemeriksaan jika terlihat jaringan yang semakin membesar, mata sering merah atau terasa mengganjal, maupun penglihatan mulai kabur. Nyeri mata berat, penurunan penglihatan mendadak, atau mata merah disertai gangguan penglihatan memerlukan penilaian medis segera karena belum tentu disebabkan oleh pterigium saja.

Pemeriksaan mata penting untuk memastikan diagnosis dan menentukan penanganan yang tepat. Jangan menunggu sampai jaringan menutupi bagian tengah kornea atau penglihatan terganggu

Penutup

Pterigium bukanlah penyakit yang harus ditakuti, namun tidak boleh diabaikan. Pterigium bukan sekadar masalah penampilan mata. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat berkembang dan memengaruhi penglihatan. Mengenali gejala sejak dini, menggunakan perlindungan mata saat berada di bawah sinar matahari, dan memeriksakan mata jika muncul keluhan merupakan langkah sederhana untuk menjaga kesehatan penglihatan.

“Mata yang sehat membantu kita tetap produktif. Jangan abaikan perubahan pada mata—lindungi dan periksakan sejak dini.”

Masyarakat hanya perlu lebih peduli pada kesehatan mata dan tidak menunda pemeriksaan bila menemukan adanya pertumbuhan jaringan abnormal pada mata mereka.

Daftar Pustaka

1.     Dananjaya IPBA, Widhidewi NW, Sunariasih NN. Gambaran Faktor Risiko Kejadian Pterygium pada Pasien di Poliklinik Mata Rumah Sakit Umum Daerah Tabanan. Aesculapius Medical Journal. 2024;4(1):41–46.

https://doi.org/10.22225/amj.4.1.2024.41-46

2.     Handayani RM, Jelita EH, Handayani RM, Kaptuti UUD, Anandita FA. A Risk Factor Study of Visual Acuity in Pterygium Patients on Bawean Island, Indonesia, 2023. Ophthalmologica Indonesiana. 2024;49(S2). https://doi.org/10.35749/5jqwfn51

3.     Paparan Sinar Ultraviolet Sebagai Salah Satu Faktor Risiko Terjadinya Pterigium: Laporan Kasus. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. 2024;7(11):12602–12606. https://doi.org/10.54371/jiip.v7i11.6206

4.     American Academy of Ophthalmology. What Is a Pinguecula and a Pterygium (Surfer’s Eye)? 2026. https://aao.org/eye-health/diseases/pinguecula-pterygium

5.     Gazzard, G., Saw, S. M., Farook, M., Koh, D., Widjaja, D., Chia, S. E., … & Seah, S. K. (2002). “Pterygium in Indonesia: prevalence, severity and risk factors.” British Journal of Ophthalmology, 86(12), 1341-1346. DOI: 10.1136/bjo.86.12.1341.

6.     Hirst, L. W. (2003). “The treatment of pterygium.” Survey of Ophthalmology, 48(2), 145-180. DOI: 10.1016/S0039-6257(02)00463-0.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *