DIBERKATI Untuk MEMBERKATI, Jadi Slogan Tetty Paruntu Yang Terus Diwarisi dari Kedua Orangtua

PolitBerita.id Christiany Eugenia Paruntu (CEP) atau yang akrab disapa Tetty Paruntu kembali menunjukkan bahwa kepedulian tak selalu harus disampaikan dari podium, melainkan bisa terasa hangat saat bantuan sembako yang ia berikan langsung di depan rumah warga.

Tak ada jarak yang dibiarkan terbentang. Dengan metode door to door, timnya menyusuri pemukiman, mengantarkan paket sembako kepada para lansia dan anak-anak yatim piatu.

Di setiap bantuan yang CEP Berikan, terselip cerita tentang harapan yang nyaris redup, tentang perjuangan hidup yang tak selalu terlihat, dan tentang rasa syukur sederhana saat bantuan itu tiba.

Bagi sebagian orang, bantuan mungkin hanya angka dalam laporan. Namun bantuan itu adalah senyum yang kembali merekah.

Tangan-tangan renta yang menyambut dengan haru, mata yang berkaca-kaca, hingga suara lirih yang mengucap terima kasih semua menjadi saksi bahwa kepedulian masih nyata.

Aksi ini bukan yang pertama. Hingga kini, sebanyak 17.500 paket sembako telah disalurkan ke berbagai penjuru Sulawesi Utara. Sasarannya pun luas dan inklusif mulai dari korban bencana, kepada rohaniawan, warga binaan lapas dan petugasnya, hingga masyarakat kurang mampu yang kerap luput dari perhatian.

Namun lebih dari sekadar distribusi bantuan, kehadiran Tetty Paruntu membawa sesuatu yang begitu berharga. Ia tak hanya memberi, tetapi juga menyimak. Keluhan, cerita hidup, hingga harapan kecil warga menjadi bagian dari pertemuan-pertemuan singkat yang sarat makna itu.

Bagi Tetty Paruntu, slogan yang terus ia pegang dari kedua orang tuanya hingga saat ini yaitu, DIBERKATI untuk MEMBERKATI.

Tim perwakilannya pun merasakan hal yang sama. Dalam setiap kunjungan, ada suasana haru yang sulit disembunyikan. Bagi mereka, bantuan ini bukan sekadar bahan pokok, melainkan jembatan empati—penguat bagi warga yang tengah berjuang dalam diam.

“Sebagai wakil rakyat, saya akan terus hadir, mendengar, dan bekerja untuk kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara. Karena kepedulian adalah tugas dan panggilan hati,” ujar Tetty Paruntu dengan tegas.

Di tengah berbagai tantangan hidup yang dihadapi masyarakat, langkah kecil yang konsisten ini menjadi pengingat: tak seorang pun seharusnya merasa berjalan sendirian. Kepedulian itu hadir mengetuk pintu, menyapa hati, dan memberikan harapan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *