PolitBerita.id, Manado – Rencana kedatangan Ustaz Abdul Somad (UAS) ke Sulawesi Utara memunculkan beragam tanggapan dari sejumlah elemen masyarakat. Meski demikian, tokoh adat dan masyarakat di Sulut mengajak seluruh pihak untuk tetap mengedepankan sikap sejuk, damai, dan menjaga semangat *torang samua basudara*.
Dalam rapat koordinasi yang berlangsung di Kantor Gubernur Sulut bersama Kesbangpol, unsur TNI-Polri, serta MUI Sulut, Selasa (12/5/2026), sejumlah organisasi masyarakat adat Minahasa menyampaikan aspirasi penolakan terhadap rencana kedatangan UAS. Namun, penyampaian sikap tersebut dilakukan secara terbuka dan mengedepankan jalur komunikasi yang kondusif.
Tokoh adat yang hadir menegaskan bahwa langkah tersebut bukan ditujukan untuk memicu perpecahan ataupun sikap intoleran, melainkan sebagai bentuk perhatian terhadap stabilitas sosial dan kerukunan masyarakat di Sulawesi Utara yang selama ini hidup harmonis dalam keberagaman.
Panglima Besar Ormas Adat Manguni Makasiouw (PMM), Andy Rompas, mengatakan bahwa masyarakat Sulut memiliki komitmen kuat menjaga kedamaian daerah serta menghormati seluruh umat beragama.
“Kami ingin Sulawesi Utara tetap aman dan damai. Perbedaan pandangan harus disikapi dengan bijak tanpa menimbulkan kebencian ataupun permusuhan. Semangat persaudaraan harus tetap menjadi yang utama,” ujar Rompas.
Ia juga mengajak masyarakat agar tidak mudah terpancing provokasi di media sosial maupun informasi yang dapat memperkeruh suasana. Menurutnya, dialog dan komunikasi yang baik menjadi kunci menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk.
Selain itu, Rompas mengapresiasi langkah pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat yang terus berupaya menjaga situasi tetap kondusif.
“Mari sama-sama menjaga Sulut sebagai daerah yang dikenal rukun dan penuh toleransi. Perbedaan jangan dijadikan alasan untuk memecah persaudaraan,” tambahnya.
Sulawesi Utara selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat toleransi yang tinggi di Indonesia. Nilai gotong royong dan saling menghormati antarumat beragama terus dijaga sebagai bagian dari identitas masyarakat Nyiur Melambai.
Dengan suasana yang tetap sejuk dan kondusif, masyarakat berharap setiap dinamika yang muncul dapat diselesaikan melalui komunikasi dan semangat kebersamaan demi menjaga persatuan di Sulawesi Utara.
