Manado – Perekonomian Sulawesi Utara pada Triwulan I Tahun 2026 menunjukkan performa yang impresif dengan pertumbuhan sebesar 5,54 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y).
Capaian tersebut bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama yang berada di angka 5,05 persen.
Data tersebut berdasarkan Berita Resmi Statistik Mei 2026 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara terkait perkembangan ekonomi daerah pada Triwulan I-2026.
Secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Utara atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp51,67 triliun. Sementara berdasarkan harga konstan 2010, nilainya mencapai Rp28,05 triliun.
Pertumbuhan ekonomi Sulut didorong oleh peningkatan aktivitas di hampir seluruh lapangan usaha.
Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 20,85 persen.
Lonjakan tersebut dipengaruhi meningkatnya aktivitas pariwisata, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara, serta meluasnya program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berdampak langsung pada sektor penyedia makanan.
Selain itu, momentum hari besar keagamaan seperti Imlek, Nyepi, Ramadan, hingga Idul Fitri turut mendorong peningkatan konsumsi masyarakat.
Dari sisi pengeluaran, komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah menjadi motor utama dengan pertumbuhan sebesar 7,89 persen.
Hal itu dipengaruhi oleh percepatan realisasi belanja APBD dan APBN untuk program prioritas pemerintah, termasuk pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi aparatur sipil negara.
Pertumbuhan ekonomi Sulut yang berada di angka 5,54 persen menunjukkan akselerasi ekonomi daerah yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Capaian ini mempertegas posisi Sulawesi Utara sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi penting di kawasan timur Indonesia.
Meski tumbuh positif secara tahunan, ekonomi Sulut mengalami kontraksi sebesar 8,02 persen dibanding Triwulan IV-2025 atau quarter-to-quarter (q-to-q).
Kondisi tersebut dinilai sebagai pola musiman yang umum terjadi di awal tahun, terutama akibat penyesuaian aktivitas sektor konstruksi dan pertambangan serta menurunnya realisasi belanja modal pemerintah setelah akhir tahun anggaran.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyatakan akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor pariwisata, dukungan terhadap program ketahanan pangan, serta percepatan realisasi belanja daerah guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
